Membangun Culture


“Antri Mas..!” atau “antri donk!” disertai kata-kata kotor..mungkin itu kata-kata yang sering kita dengar ketika kita sedang antri beli tiket ker eta api, kemudian ada seseorang menyerobot masuk di urutan terdepan.

Mungkin perasaan yang sama dirasakan oleh seorang ibu jepang ketika seseorang menyerobot ke barisan depan, tetapi aku melihat reaksi yang berbeda dari mereka. Pertama mereka akan minggir, kemudian memandang orang tersebut kemudian? Ya, memberikan tempat! Dengan mundur selangkah.. kenapa ? karena mereka mengetahui persis "menyerobot" bukan tradisi jepang!, dan mereka mafhum bahwa si penyerobot pasti bukan “orang kita”/orang asing, dan berharap si penyerobot sadar setelah diberi tempat. Sebuah metode edukasi yang jarang tapi sangat santun. Semua berasal dari tradisi/kebiasaan, menyerobot itu “gak biasa”.

Mengapa mereka melakukan itu ? efektifkah? Ya, itu efektif bagi orang Jepang. Sedikit informasi, kalau langkah tadi dilakukan ke orang Jepang, maka orang Jepang (si Penyerobot) tersebut akan minta maaf.. summimasen, terus berlalu atau pergi ke belakang dengan rasa malu, dan si Ibu pun dengan santun juga berkata ii yo. Sambil tersenyum! Wow..demikian santun kah orang jepang? Apa yang membuat mereka seperti itu? Karena “kebiasaan”...


Hal yang sama terjadi ketika aku pergi ke Takayama, perjalanan 2.5 jam dengan bus, tidak pernah ditemui di tengah perjalanan si bus berhenti untuk mengisi solar (kalaupun ada sang sopir akan bilang di awal..”para penumpang mohon maaf nanti kita akan berhenti untuk mengisi solar sebentar), ini pun sangat jarang, karena sang Sopir sudah mempersiapkan busnya sebelumnya, kebersihan, alat komunikasi, solar, cek seluruh fungsi kendaraan. Kenapa? Sang Sopir akan “Malu” bila busnya macet di jalan karena putus belt/konveyor mesin atau tali kipas putus atau (lebih parah) solar habis atau AC mati (hal yang pernah aku alami waktu pulang kampung jaman kuliah dulu sehingga perjalanan Jakarta-Solo ditempuh dalam waktu 23 jam dengan bus).

Dan kali ini perjalanan ke Takayama pun nyaman, sampai dengan on-time, aku juga bisa tidur,baca buku, sholat dengan tenang.

Saya pernah ditanya oleh peserta seminar : apa sih yang membuat Jepang berbeda? Saya jawab mindsetnya, terus ada nada pesimis dari peserta “wah kayaknya program ini gak applicable di Indonesia” atau wah pantes productivity bisa naik, itu mah jepang doank!”.

Nada pesimis itu emang beberapa aku maklumi, karena mereka berfikir merubah kultur di Indonesia berarti pekerjaan ber-abad-abad karena kultur yang exist sekarang sudah mengakar sedemikian dalamnya, dan karena itu mereka pun tidak punya pijakan awal untuk melangkah. Padahal gak semestinya begitu, bukan bermaksud menggurui atau menggampangkan, karena kita bisa merubah dari kebiasaan kecil yang menurut kita jelek untuk dilakukan menjadi tidak dilakukan, seperti : nyerobot, ngaret, mencemooh, berfikir negatif dan lain-lain, toh itu termasuk beberapa penyakit hati (apabila kita tanya ke hati kecil kita itu adalah perbuatan yang tidak baik).

Karena semua berasal dari hal-hal yang kecil, semua berasal dari konsep “biasa” dan “gak biasa”, tinggal bagaimana kita merubah hal-hal yang “gak biasa” menjadi “biasa” atau sebaliknya.


gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpxvt4g2qa9hyphenhyphenwdURx2cTEolCnzGJE6oOB_IiRfBsLISdMUC8uc-G57CexII0vO4N5VbnMDvRyZcF5VchPx9Xhm9OelsQQq0pjIuR8ZZqbATn72kIVFNt1SE7b1-Eo7bIDipl4/s1600/antri.jpg

0 komentar: